
APAKAH EV PILIHAN TEPAT SEBAGAI MOBIL PERTAMA?
Luki Cahyadi - KOLEKSI 104
Kamis, 15 Januari 2026 14:13 WIB

Beberapa tahun lalu, mobil listrik (EV) hampir selalu dijadikan pilihan kedua atau ketiga-dipakai setelah punya mobil konvensional (BBM). Hari ini, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah EV layak dipilih sebagai mobil pertama, terutama bagi kamu yang belum pernah punya mobil sama sekali?
Di Indonesia, memilih mobil pertama bukan sekadar mengejar teknologi terkini atau gaya hidup. Ini adalah keputusan besar yang mempengaruhi aspek finansial, kenyamanan sehari-hari, dan mobilitas keluarga. EV perlu dilihat secara realistis—termasuk dibandingkan dengan pilihan konvensional seperti LCGC (LowCost Green Car).
Harga Beli LCGC vs EV
Harga menjadi pertimbangan utama pembeli mobil pertama. Untuk LCGC bensin, opsi entry-level di Jakarta pada 2025 umumnya sebagai berikut:
-
Daihatsu Ayla: ± Rp140–190 juta
-
Toyota Agya: ± Rp165–200 juta
Rentang harga ini membuat LCGC sangat populer sebagai mobil pertama, termasuk pasar bekasnya yang sangat likuid.
Sementara itu, EV termurah yang tersedia di Jakarta (2025) kini mulai mendekati kisaran LCGC, misalnya:
-
Wuling Air EV (Lite / Standard): ± Rp185–210 juta OTR Jakarta
-
BYD Atto 1: ± Rp195–235 juta OTR Jakarta
-
DFSK Seres E1: ± Rp190–220 juta OTR Jakarta
Rentang harga EV tersebut menunjukkan bahwa selisih antara mobil listrik termurah dengan LCGC tidak sebesar beberapa tahun lalu. EV bahkan sudah menyentuh angka yang membuatnya layak dipertimbangkan oleh pembeli mobil pertama—asal kebutuhan dan gaya hidup mendukung.
Kesesuaian Kebutuhan Sehari-hari
Untuk sebagian besar pemilik mobil pertama, penggunaan harian biasanya mencakup: berangkat kerja, antar jemput keluarga, belanja harian, dan aktikitas harian di dalam kota. Dalam skenario ini, EV sebenarnya cocok. Sistem operasionalnya lebih sederhana—tidak ada ganti oli mesin atau Kopling, dan akselerasinya halus serta predictable. Bagi pengguna baru, ini membantu mengurangi kerepotan teknis yang biasa terjadi pada mesin bensin/solar. Jika memungkinkan mengecas di rumah, EV juga memberi pengalaman yang nyaman: tidak perlu mampir ke SPBU setiap beberapa hari sekali.
Kesiapan Infrastruktur
EV sebagai mobil pertama akan jauh lebih masuk akal jika digunakan di wilayah dengan infrastruktur pengisian yang memadai. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, SPKLU semakin tersebar, termasuk di pusat perbelanjaan dan rest area tol. Ini membantu mengurangi kekhawatiran soal jarak dan pengisian. Namun di luar Jawa atau daerah dengan akses listrik rumah yang belum stabil, EV bisa dipertimbangkan untuk pengguna awal yang sudah mempunyai alat pengisian daya sendiri di rumah. Adapun bagi yang masih mengandalkan SPKLU, pemilik pemula akan terasa kurang praktis dibanding LCGC kalau harus mengisi ke tenpat pengisian daya SPKLU yang jumlahnya masih sedikit dan harus mengantri. Situasi ini menegaskan bahwa pertimbangan lokasi sangat penting.
Biaya Operasional dan Perawatan
Salah satu hal yang sering jadi keunggulan EV adalah biaya operasional yang lebih stabil. Listrik cenderung lebih murah dan terprediksi dibanding BBM, dan perawatan motor listrik umumnya lebih sederhana karena lebih sedikit komponen yang bergerak.
Namun bagi pemilik mobil pertama yang belum punya fasilitas pengecasan di rumah, perlu memperhitungkan biaya pemasangan home charging atau kemungkinan ngisi di SPKLU umum.
Nilai Jual Kembali
Nilai jual kembali adalah faktor penting di Indonesia. Dalam hal ini, LCGC masih memegang keunggulan kuat. Pasar bekasnya matang, likuid, dan harga jual kembali relatif stabil. Di sisi lain, pasar EV bekas masih berkembang dan lebih sulit diprediksi. Bukan berarti EV bekas punya nilai buruk, tetapi ketidakpastian pasar membuat EV memerlukan pertimbangan ekstra bagi pembeli mobil pertama yang sangat bergantung pada resale value.
Aspek Psikologis
Mobil pertama sering kali menjadi “alat belajar”: belajar merawat kendaraan, menghadapi kondisi tak terduga, dan merasakan dinamika berkendara di berbagai kondisi jalan. Sebagian orang merasa lebih aman memulai dengan teknologi yang sangat umum, seperti LCGC. Sebagian lain justru nyaman mulai dengan teknologi baru yang secara operasi justru lebih sederhana seperti EV.
Keduanya valid; yang penting adalah kesiapan adaptasi masing-masing.
Kesimpulan: Apakah EV Tepat sebagai Mobil Pertama?
Jawaban paling jujur adalah: tergantung kebutuhan dan konteks pribadi.
-
EV dapat sangat layak sebagai mobil pertama jika:
-
Kamu tinggal dan berkendara di kota dengan infrastruktur charger memadai
-
Kamu memiliki akses listrik di rumah atau kantor
-
Kamu mengutamakan kemudahan penggunaan dan biaya operasional yang lebih stabil
Namun LCGC tetap relevan jika:
-
Kamu sering bepergian ke daerah yang belum siap dengan infrastruktur EV
-
Kamu mengutamakan nilai jual kembali yang lebih pasti
-
Kamu ingin teknologi yang sangat familiar dan minim adaptasi
Penutup
Mobil listrik bukan lagi sekadar mobil kedua atau tren semata. Dalam banyak kondisi, EV sudah cukup matang untuk dipertimbangkan sebagai mobil pertama. Namun LCGC juga belum kehilangan relevansinya dalam ekosistem otomotif Indonesia yang sangat mapan. Pada akhirnya, mobil pertama seharusnya membuat hidup lebih mudah—bukan lebih rumit. Teknologinya boleh berbeda, tetapi prinsipnya sama: pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan preferensi Anda, bukan sekadar karena label atau tren.
