
MEMBONGKAR FAKTA HEMAT "BEDAH DOMPET" 5 TAHUN: TCO BYD ATTO 1 VS HONDA Brio Satya
Carlos Christian Lie - KOLEKSI 110
Rabu, 28 Januari 2026 22:08 WIB

Pandangan masyarakat tentang mobil listrik (EV) selalu dicap harganya mahal. Padahal, dalam praktik kepemilikan, mobil bukan sekadar barang konsumsi. Melainkan alat mobilitas jangka menengah hingga panjang.
Di titik inilah konsep Total Cost of Ownership (TCO) menjadi relevan. TCO tidak bicara satu transaksi, melainkan seluruh biaya yang menyertai kendaraan sejak dibeli, digunakan, dirawat, hingga akhirnya dijual kembali.
Dari pengalaman kolektif anggota KOLEKSI (Komunitas Mobil Elektrik Indonesia). Penggunaan mobil listrik harian di berbagai kota, gambarannya menjadi lebih utuh. Mobil listrik selalu masuk akal ketika dilihat sebagai sistem biaya jangka panjang, bukan label harga saat pembelian awal semata.
Masyarakat kita cerdas, tapi sering terjebak pada 'sticker price' (harga awal). Padahal, membeli mobil itu adalah komitmen finansial jangka panjang. Kami di KOLEKSI mencoba membedah apa yang kami sebut sebagai The Real Cost of Mobility.
Agar lebih jelas, kita simulasikan TCO untuk mobil listrik BYD Atto 1 (EV) dengan Honda Brio Satya E (Bensin), fakta ekonomi yang terungkap cukup mengejutkan. Mobil listrik bukan hanya lebih hemat, ia juga mencetak "uang kembali" bagi pemiliknya.
1. "The Silent Killer": Biaya Energi Harian
Simulasi diawali dengan menilik harga jual dari dealer, yakni antara BYD Atto 1 (EV): Rp195.000.000, dengan Honda Brio Satya E (Bensin): Rp198.000.000. Kedua harga tersebut merupakan on the road Jakarta.
Untuk menjawab keraguan publik, kita simulasi head-to-head secara spesifik. Bukan antar mobil mewah, melainkan di segmen paling sensitif harga. Oleh karenanya kita bandingkan TCO pada mobil di bawah Rp200 juta. Mari kita bedah simulasi ini hingga ke tulang-tulangnya.
Mari kita cermati apa yang terjadi di dompet pemilik setiap kali roda berputar sejauh 100 km/hari:
Skenario Listrik (BYD Atto 1):
-
Konsumsi Energi: 1 kWh untuk 10 km.
-
Untuk 100 km butuh 10 kWh.
-
Biaya: Rp 24.660 per 100 km (Tarif SPKLU)
-
Per Bulan: Rp 739.800.
Skenario Bensin (Honda Brio Satya E):
-
Konsumsi BBM: 1 Liter untuk 18 km.
-
Untuk 100 km butuh 5,55 Liter.
-
Biaya: Rp 55.500 per 100 km (asumsi Pertalite/setara)
-
Per Bulan: Rp1.666.000
Skenario listrik pada BYD Atto 1 menawarkan angka yang jauh lebih "ramah kantong". Dengan konsumsi energi 10 kWh untuk menempuh 100 km, biaya yang dikeluarkan hanya sebesar Rp 739.800.
Bandingkan dengan skenario mobil bensin Honda Brio Satya E, efisiensi 1 liter untuk 18 km memang terlihat irit. Namun, untuk menempuh jarak 100 km, tetap membutuhkan sekitar 5,55 liter bahan bakar dengan biaya Rp 55.500 (asumsi Pertalite/setara). Jika diakumulasikan, pemilik harus merelakan sekitar Rp 1.665.000 setiap bulannya.
Jika ditarik dalam garis waktu setahun, BYD Atto 1 hanya butuh biaya Rp 8.877.600 per tahun untuk konsumsi energi. Sedangkan Honda Brio Satya E menghabiskan budget sebesar Rp 19.980.000 untuk konsumsi bahan bakar minyak.
Selisih biaya energi keduanya mencapai angka yang fantastis, yakni antara 13 sd Rp 11 juta per tahun. Angka tersebut adalah “silent killer” yang diam-diam membobol isi dompet. Bukti mutlak bahwa mobil listrik bukan lagi soal gaya hidup hijau semata, melainkan keputusan finansial paling logis bagi mereka yang ingin menghentikan pemborosan energi di tengah ketidakpastian harga BBM.
2. Pajak dan Servis: Beban yang Sering Terlupakan
Salah satu poin yang jadi keunggulan pengguna EV adalah "ketenangan pikiran" soal pajak dan biaya ngebengkel.
Data TCO memperlihatkan ketimpangan yang ekstrem:
-
Pajak Tahunan: Pemilik Honda Brio Satya E diasumsikan Rp 3.000.000, sementara pemilik BYD Atto 1 hanya membayar Rp 150.000.
-
Servis Tahunan: Mesin bensin membutuhkan ganti oli, filter, busi, dan tune-up senilai kurang lebih Rp 5.000.000. Sedangkan mobil listrik, yang minim komponen bergerak, hanya butuh Rp 500.000 untuk pengecekan rutin.
Secara mental, ini jelas meringankan pengguna mobil listrik. Kunjungan ke bengkel resmi bagi anggota komunitas KOLEKSI bukan lagi momen yang menegangkan bagi dompet. Datang ke bengkel lebih sering ditujukan untuk pembaruan perangkat lunak (software update), pengecekan filter AC, atau sekadar memastikan kampas rem dalam kondisi prima.
Tentunya jadi sebuah pergeseran budaya dari perawatan mesin yang kotor menjadi pemeliharaan gawai canggih beroda.
3. Angka Tidak Pernah Bohong (Akumulasi 5 Tahun)
Setelah membedah biaya harian, maka saatnya mengakumulasi TCO selama 5 tahun pemakaian. Kejujuran sebuah mobil akan teruji sepenuhnya setelah melewati masa kepemilikan selama 60 bulan atau lima tahun. Di sinilah, angka akan berbicara secara jujur tanpa bias pemasaran.
Banyak orang terjebak menghitung cicilan, tapi lupa menghitung berapa nilai aset mereka yang 'menguap' dan berapa biaya yang mereka 'bakar' di jalan raya selama 60 bulan. Simulasi menunjukkan bahwa dalam rentang 5 tahun, selisih pengeluaran antara mobil bensin dan listrik bahkan hampir menyentuh angka ratusan juta rupiah. Itulah harga dari sebuah pilihan teknologi. Berikut ini tabel TCO selama 5 tahun:
Hasil akhir, menggunakan mobil listrik selama 5 tahun menghemat uang sebesar Rp 99.862.000 selisih jauh dibanding menggunakan mobil bensin.
Belum lagi soal tech obsolescence (teknologi yang usang). Lima tahun lagi, regulasi emisi makin ketat, harga BBM mungkin naik, dan infrastruktur EV makin matang. Mobil bensin bekas mungkin akan dilihat seperti 'kaset pita' di era Spotify. Masih ada yang mau, tapi nilainya jatuh. Sementara EV dengan Battery Health yang masih garansi (rata-rata garansi 8 tahun) akan menjadi komoditas unggul.
Berdasarkan bedah data tersebut, bisa disimpulkan bahwa beralih ke mobil listrik adalah keputusan finansial cerdas. Logika ekonomi ini akan bekerja paling maksimal bagi para 'pejuang kilometer' yang memiliki jarak tempuh harian di atas 30 km, karena di titik itulah efisiensi listrik akan secara otomatis 'membayar' harga kendaraan melalui penghematan bensin yang masif.
Efisiensi ini pun akan semakin optimal bagi pemilik rumah yang memiliki home charging, yang dapat memberikan tarif listrik mulai dari Rp1.300 per kwh melalui skema diskon charging di malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 5.00 dini hari. Adapun tarif listrik rumahan yang berkisar antara Rp 1.300 hingga Rp 2.400 per kWh jauh lebih kompetitif dibandingkan harga bensin di SPBU. Dengan demikian, perhitungan konsumsi listriknya akan menjadi :
Skenario Listrik (BYD Atto 1):
-
Konsumsi Energi: 1 kWh untuk 10 km.
-
Untuk 100 km butuh 10 kWh.
-
Biaya: Rp 13.000 per 100 km (Tarif Home Charging dengan diskon)
-
Per Bulan: Rp 390.000.
Pada akhirnya, ini adalah strategi bagi para pengguna jangka panjang yang berniat memiliki kendaraan minimal selama lima tahun, karena dalam rentang waktu itulah penghematan sebesar hingga Rp 100 juta menjadi angka nyata yang bisa dirasakan langsung.
Namun jangan lupakan satu hal yang menjadi privilage atau keistimewaan apabila memiliki home charging, yaitu adalah kepraktisan dalam mengisi daya mobil yang bisa dilakukan di rumah setiap malam hari, hal ini dapat menghemat waktu yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan pemilik mobil bensin yang harus mengantri di pom bensin, apalagi kalau ingin mengisi jenis bbm subsidi pertalite yang dimana antriannya pasti panjang mengular.
Jadi, pertanyaan besarnya bukan lagi soal apakah mobil listrik lebih murah, melainkan siapkah Anda mengubah kebiasaan lama mengisi bensin menjadi mengisi daya demi penghematan finansial, sekaligus berkontribusi pada gaya hidup ramah lingkungan.


