5 HAL YANG DITAKUTKAN ORANG SEBELUM MEMBELI MOBIL LISTRIK
Luky Cahyadi - KOLEKSI 104
Sabtu, 10 Januari 2026 13:36 WIB

Banyak orang sebenarnya tertarik dengan mobil listrik (electric vehicle/EV), tetapi selalu berakhir dengan kalimat yang sama: “belum sekarang.” Bukan karena tidak mampu, dan bukan pula karena tidak percaya pada teknologinya. Lebih sering, karena terlalu banyak pertanyaan kecil yang menumpuk dan perlahan berubah menjadi keraguan.
Hal menarik muncul ketika saya berbincang dengan beberapa orang di rentang usia 30–50 tahun—kelompok dengan penghasilan mapan dan terbiasa mengambil keputusan secara rasional. Ketakutan yang muncul hampir selalu seragam. Padahal, jika dilihat dari kondisi pasar dan perkembangan teknologi saat ini, cukup banyak dari kekhawatiran tersebut yang sebenarnya sudah layak dipertanyakan ulang.
Berikut lima ketakutan yang paling sering muncul sebelum seseorang memutuskan membeli EV, dan bagaimana realitanya hari ini.
Ketakutan Pertama: Takut Baterai Habis dan Sulit Cari Charger
Ini mungkin ketakutan paling klasik. Bayangan kehabisan daya di tengah perjalanan tentu bukan pengalaman yang ingin dialami siapa pun. Namun dalam praktik sehari-hari, kekhawatiran ini kerap tidak sejalan dengan pola penggunaan mobil kebanyakan orang.
Aktivitas harian umumnya bersifat rutin dan jaraknya relatif pendek: berangkat kerja, mengantar anak, belanja, lalu kembali ke rumah. Untuk pola penggunaan seperti ini, EV modern sebenarnya sudah lebih dari memadai. Bahkan untuk perjalanan jarak jauh pun, menurut pengalaman pengguna yang tergabung di Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) dan tren pasar sudah memenuhi EV dengan jarak tempuh yang jauh dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sudah relatif mudah ditemukan.
Selain itu, ada satu keunggulan EV yang sering diremehkan: pengisian daya di rumah. Tidak perlu lagi menyempatkan diri ke SPKLU. Cukup mencolokkan charger di rumah, dan keesokan paginya mobil siap digunakan. Rasa aman ini, seperti halnya kebiasaan mengisi bbm di masa lalu, akan terbentuk seiring waktu.
Ketakutan Kedua: EV Mahal
Pada awal kemunculannya, anggapan ini sangat masuk akal. EV identik dengan harga tinggi dan pilihan yang terbatas.
Namun situasinya kini berubah cukup drastis. Masuknya EV buatan Tiongkok—seperti BYD dan kawan-kawannya—dengan skala produksi besar dan fitur yang agresif, mendorong harga EV turun signifikan. Di beberapa segmen, EV kini bahkan ditawarkan dengan banderol yang setara, atau lebih rendah, dibanding mobil bermesin bensin/solar.
Dampaknya terasa ke seluruh pasar. Merek lain mau tidak mau melakukan penyesuaian harga agar tetap kompetitif. Hyundai Ioniq 5, misalnya, yang saat pertama meluncur di Indonesia dibanderol di atas Rp 800 juta, kini sudah berada di kisaran Rp 600 jutaan. Dengan kondisi seperti ini, anggapan bahwa EV “pasti mahal” semakin sulit dipertahankan.
Ketakutan Ketiga: Ribet dan Repot Urusan Perawatan
EV juga kerap dianggap ribet karena teknologinya berbeda. Padahal jika dilihat dari sisi mekanis, justru sebaliknya.
Tidak ada mesin pembakaran, tidak ada oli mesin, dan jumlah komponen bergeraknya jauh lebih sedikit dibanding mobil konvensional. Servis berkala pun umumnya lebih sederhana. Yang sebenarnya berubah bukan tingkat kerumitannya, melainkan kebiasaan kita dalam merawat kendaraan. Peralihan ini lebih bersifat adaptasi, bukan komplikasi.
Ketakutan Keempat: EV Mudah Terbakar
Kasus EV terbakar—terutama saat proses pengisian daya—memang kerap viral dan wajar menimbulkan kekhawatiran. Namun berdasarkan berbagai studi keselamatan global dan laporan insiden kendaraan dari sejumlah negara, secara statistik EV tercatat lebih jarang mengalami kebakaran dibanding mobil bensin /iesel.
Mobil bermesin bensin/solar membawa bahan bakar cair yang sangat mudah terbakar, sementara EV tidak. Selain itu, EV modern dilengkapi sistem manajemen baterai yang secara terus-menerus memantau suhu, arus, dan tegangan. Memang benar, jika kebakaran EV terjadi, proses penanganannya bisa lebih kompleks. Namun dari sisi frekuensi kejadian, risikonya tetap lebih rendah.
Ketakutan Kelima: Harga Jual Kembali Rendah
Di Indonesia, kekhawatiran soal nilai jual kembali adalah hal yang sangat relevan. Mobil sering dipandang sebagai aset yang suatu hari akan dilepas kembali.
Namun ada beberapa hal yang perlu dilihat secara lebih jernih. Pertama, depresiasi adalah keniscayaan untuk semua jenis mobil—baik listrik maupun konvensional (ICE). Tidak ada teknologi yang kebal terhadap penurunan nilai.
Di sisi lain, EV menawarkan value for money yang berbeda: biaya perawatan lebih rendah, komponen lebih sedikit, serta biaya operasional yang dalam praktik penggunaan harian, kerap dirasakan jauh lebih murah. Jika dilihat dari total biaya kepemilikan, gambarnya menjadi lebih seimbang. Ditambah lagi, teknologi baterai terus berkembang—biayanya menurun dan daya tahannya meningkat—sehingga ke depan EV berpotensi diperlakukan pasar tidak jauh berbeda dengan mobil konvensional.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Takutkan?
Jika dirangkum, sebagian besar ketakutan terhadap EV hari ini bukan lagi murni soal keterbatasan teknis. Lebih sering, ia berasal dari kebiasaan lama, persepsi yang tertinggal, serta pemberitaan yang terasa lebih besar daripada realitas di lapangan.
EV bukan kewajiban, dan tidak semua orang harus beralih sekarang. Namun dengan harga yang semakin kompetitif, fitur yang semakin matang, serta risiko yang kian terukur, mobil listrik sudah sangat layak dipertimbangkan secara rasional.
Mungkin pertanyaannya kini bukan lagi “apa yang kita takutkan,” melainkan “ketakutan mana yang sebenarnya sudah tidak relevan, tetapi masih kita pegang.”
SCBD, 2 January 2026
