BUKAN EMP, INI PENYEBAB MABUK
DI MOBIL LISTRIK
Hendro Sutono - Pengamat dan Pengguna EV
Selasa, 13 Januari 2026 12:09 WIB

Belakangan ini, setiap kali ada penumpang yang mengeluh pusing atau mual saat menaiki kendaraan listrik, tudingan yang muncul sering kali terdengar dramatis. Ada yang menyebut efek elektromagnetik, ada yang menuduh paparan gelombang listrik, bahkan ada pula yang menyimpulkan bahwa mobil listrik membawa risiko kesehatan tersembunyi. Tuduhan terhadap apa yang disebut sebagai EMP pun beredar luas, meski seringkali tanpa dasar ilmiah yang jelas.
Menurut autotrader.ca dalam artikel “Why Do EVs Trigger Motion Sickness and How Can I Stop It?” [Link], keluhan mabuk perjalanan pada kendaraan listrik bukan disebabkan oleh paparan elektromagnetik atau radiasi berbahaya. Penyebabnya jauh lebih sederhana, yaitu perbedaan mendasar antara karakter berkendara kendaraan listrik dan cara sistem sensorik manusia memproses gerakan.
Selama lebih dari satu abad, manusia hidup berdampingan dengan kendaraan bermesin pembakaran internal. Suara mesin, getaran, perpindahan gigi, hingga efek engine brake menjadi penanda alami bagi otak untuk membaca percepatan dan perlambatan. Semua sinyal ini membentuk referensi biologis yang stabil. Ketika referensi tersebut tiba-tiba hilang pada kendaraan listrik, otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Mobil listrik bergerak nyaris tanpa suara dan getaran. Motor listrik menghasilkan torsi instan tanpa pendahuluan bunyi atau vibrasi. Kendaraan melesat, tetapi otak tidak mendapat sinyal pendukung yang selama ini digunakannya untuk memprediksi perubahan gerak. Kondisi inilah yang memicu apa yang dikenal sebagai sensorimotor mismatch, yaitu ketidaksinkronan antara apa yang dilihat mata, dirasakan telinga bagian dalam, dan diharapkan oleh otak.
Sensorimotor mismatch merupakan penyebab umum motion sickness. Fenomena ini sama dengan mabuk laut, mabuk udara, atau pusing saat menggunakan simulator realitas virtual. Pada kendaraan listrik, karakter akselerasi yang spontan serta sistem regenerative braking yang langsung memperlambat kendaraan saat pedal dilepas dapat memperkuat efek ini, terutama bagi penumpang yang tidak memiliki kontrol atau konteks visual yang cukup.
Autotrader.ca juga mencatat bahwa penumpang lebih rentan mengalami mabuk perjalanan dibandingkan pengemudi. Pengemudi dapat mengantisipasi setiap perubahan gerak melalui pedal dan kemudi. Sementara itu, penumpang, khususnya di kursi belakang, hanya menerima dampak gerakan tanpa sinyal antisipatif yang memadai. Tubuh merasakan perubahan, tetapi otak tertinggal membaca maksudnya.
Di titik inilah tudingan terhadap EMP mulai terasa tidak relevan. EMP atau Electromagnetic Pulse merupakan fenomena ekstrem yang biasanya dikaitkan dengan ledakan nuklir atau perangkat militer, dengan dampak utama berupa kerusakan sistem elektronik. Kendaraan listrik beroperasi dalam sistem kelistrikan tertutup yang dilindungi oleh standar keselamatan internasional. Jika EMP benar-benar terjadi, yang pertama kali lumpuh adalah sistem kendaraan, bukan kondisi fisik penumpang.
Selain itu, kendaraan bermesin bensin pun menghasilkan medan elektromagnetik dari alternator, sistem pengapian, dan perangkat elektroniknya. Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa medan elektromagnetik dari kendaraan berada pada tingkat yang dapat mempengaruhi sistem saraf manusia. Mengaitkan rasa mual di mobil listrik dengan EMP lebih mencerminkan kesalahpahaman teknologi dibandingkan fakta ilmiah.
Fenomena mabuk di kendaraan listrik juga bersifat sementara. Banyak pengguna melaporkan keluhan tersebut berkurang setelah beberapa minggu penggunaan. Otak manusia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan akan membangun pola sensorik baru seiring waktu. Apa yang awalnya terasa asing, lambat laun menjadi normal.
Jika transisi ke kendaraan listrik ingin dipahami secara utuh, diskusinya tidak cukup berhenti pada harga, jarak tempuh, atau infrastruktur pengisian daya. Ada aspek yang sering luput dibahas, yaitu bagaimana tubuh manusia merespons perubahan cara bergerak. Rasa tidak nyaman yang dialami sebagian orang bukanlah tanda bahaya tersembunyi, melainkan bagian dari proses adaptasi manusia terhadap teknologi baru.
