PENGALAMAN EV VS ICE:
MANA YANG LEBIH RASIONAL SECARA EKONOMI?
Ricardo Indra - KOLEKSI 236
Senin, 12 Januari 2026 09:26 WIB

Di Indonesia, perdebatan mobil listrik (Electronic Vehicle) versus mobil konvensional (Internal Combustion Engine) sering berhenti di satu titik, yaitu harga beli awal. Mobil dengan banderol lebih murah dianggap otomatis lebih “masuk akal”. Padahal untuk pengambil keputusan yang rasional, pertanyaan seharusnya tidak berhenti di situ. Terlalu dangkal.
Lebih relevan kalau mengkalkulasi berapa biaya kepemilikan selama rentang waktu 5–10 tahun. Karena pada akhirnya, mobil bukan sekadar beli barang, melainkan perlu memikirkan pos biaya yang akan terus berjalan seperti energi, servis, depresiasi, dan risiko biaya besar di masa depan.
Sebagai pengguna Mitubishi Pajero Sport Ultimate yang kemudian beralih ke Hyundai IONIQ 5 SLR (Signature Long Range), ingin berbagi cerita tentang pengalaman EV dan ICE dari sisi customer experience. Tujuannya bukan untuk menghakimi pilihan, melainkan memberi gambaran komprehensif dari perspektif ekonomi yang bisa dipakai sebagai salah satu pertimbangan penggunaan teknologi baru mobil listrik.
Mahal di Muka, Murah di Keseharian.
Hyundai pernah melakukan kampanye Mendukung Ekosistem Mobil Listrik Indonesia, saat memperkenalkan IONIQ 5 sebagai mobil listrik modern dan merepresentasikan salah satu pelopor EV. Sedangkan Mitubishi Pajero Sport Ultimate sebagai SUV (Sport Utility Vehicle) diesel konvensional sudah mapan di pasar Indonesia.
Hyundai IONIQ 5 SLR merupakan varian tertinggi keluarga IONIQ dan memang lebih mahal dibandingkan Mitubishi Pajero Sport Ultimate. Terdapat selisih sekitar seratus jutaan di antara kedua mobil tersebut. Kebijakan pemerintah terhadap mobil litrik, telah membuat selisih harga EV dengan mobil konvensional menyempit signifikan.
Dalam banyak kasus, saat ini selisih yang tersisa tidak lagi menentukan secara mutlak. Justru yang menjadi faktor signifikan adalah biaya operasional mobil yang akan mendominasi selama kepemilikan. Banyak komponen biaya yang harus dikeluarkan setelah pembelian kendaraan bermotor.
Biaya Energi Sumber Keunggulan Utama EV
Hyundai IONIQ 5 Long Range memiliki baterai ±72,6 kWh dengan jarak tempuh sekitar 480 km WLTP. Jika menempuh jarak 20.000 km per tahun dan mayoritas charging dilakukan di rumah, maka konsumsi listrik ±2.500 sd 3.000 kWh/tahun, di mana tarif listrik rumah ±Rp1.700/kWh, dan kalkulasi biaya energi ±Rp4-5 juta per tahun, atau sekitar Rp400-500 ribu per bulan. Atau sekitar Rp40 juta selama 8 tahun.
Mitsubishi Pajero Ultimate diesel, rata-rata mencatat konsumsi ±10–12 km/liter dalam penggunaan nyata. Jika menempuh jarak yang sama 20.000 km per tahun maka kebutuhan BBM ±1.800-2.000 liter per tahun, harga Pertamina DEX ±Rp14.500-15.500/liter, dan kebutuhan Biaya BBM: ±Rp30 juta per tahun atau sekitar Rp2,5-3 juta per bulan. Kenyataanya, saya mengeluarkan rata-rata Rp4 juta per bulan atau sekitar 48 juta per tahun. Estimasinya adalah Rp384 juta selama 8 tahun.
Jika mobil listrik digunakan selama 8 tahun makan EV lebih hemat Rp344 juta. Inilah fondasi utama mengapa mobil Listrik lebih unggul.
Perawatan dan Servis Nyaris Tidak Ada
Mobil diesel seperti Mitsubishi Pajero Sport Ultimate memiliki mesin pembakaran, sistem bahan bakar kompleks, oli mesin, oli transmisi, filter, exhaust system, turbo, dan komponen mesin yang lebih kompleks dibandingkan mobil Listrik. Semua ini membutuhkan servis berkala rutin dan penggantian komponen. Berdasarkan pengalaman biaya servis mesin diesel akan terus miningkat seiring berjalannya waktu. Katakanlah rata-rata per tahun sekitar Rp5 juta, maka selama 8 tahun akan menghabiskan biaya Rp40 juta.
Sebaliknya, Hyundai IONIQ 5, tidak memiliki mesin pembakaran, tidak membutuhkan oli mesin, komponen bergerak jauh lebih sedikit, rem lebih awet dengan adanya regenerative braking. Hyundai bahkan memberikan Free service dan free parts 5 tahun. Pengalaman menggunakan Hyundai selamat 3 tahun ini, saat melakukan service berkala hanya beberapa ratus ribu rupiah atau bahkan free. Jika diestimasi Rp500 ribuan per tahun, maka esrtimasi selama 8 tahun akan menghabiskan biaya Rp4-5 juta.
Perpanjangan STNK yang Bersahabat
Mitsubishi Pajero Sport Ultimate pajak tahunannya nyaris Rp10 juta per tahun, Sedangkan Hyundai IONIQ 5 SLR hanya dikenai biaya Rp143 ribu per tahun. Jika dikalkulasi selama 8 tahun maka terdapat selisih yang signifikan. Pengeluaran STNK Mitsubishi Pajero Sport Ultimate sebesar Rp80 juta, sedangkan Hyundai IONIQ 5 SLR tak sampai Rp2juta. Insentif yang diberikan pemerintah saat ini memang diberikan khusus kepada pengguna mobil Listrik untuk dapat mengakselerasi adopsi EV. Selain itu terdapat intangible befenit dari mobil Listrik di kota-kota besar yaitu bebas dari aturan ganjil genap, sehingga secara psikologis lebih tenang bepergian tanpa memikirkan tanggal ganjil atau tanggal genap.
Risiko Baterai Pasca Garansi 8 Tahun
Hyundai IONIQ 5 Signature Long Range memiliki garansi baterai 8 tahun atau 160.000 km. Setelah itu, terdapat potensi biaya penggantian baterai dengan estimasi ratusan juta rupiah jika diganti penuh. Ketakutan inilah yang sering menghantui pengguna EV. Namun dalam kenyataannya tidak semua baterai harus diganti penuh, hanya yang mengalami degradasi kapasitas.
Varian Long Range 72,6 kWh pada IONIQ 5 terdiri dari 30 modul baterai utama, di mana setiap modul berisi 12 sel lithium-ion pouch. Sehingga total jumlah sel untuk varian Long Range adalah 360 sel. Teknologi baterai Hyundai telah memungkinkan penggantiaan per modul, bahkan per sel ke depannya. Harga baterai cenderung turun seiring berjalannya waktu dan hadirnya teknologi baru.
Depresiasi Nilai Jual Kembali
Mobil diesel seperti Pajero Sport memiliki pasar bekas yang kuat dan relatif stabil. Pasar mobil EV bekas belum terbentuk dan masih menghadapi perubahan teknologi cepat, persepsi pasar terhadap baterai, dan volatilitas harga. Namun depresiasi EV yang cepat sering kali dikompensasi oleh penghematan energi besar, biaya servis rendah, dan insentif pajak. Sehingga, walaupun depresiasi Hyundai IONIQ 5 lebih tinggi, namun sering kali “tertutup” oleh biaya operasional yang jauh lebih rendah pada EV.
Kesimpulan:
EV musti dilihat sebagai kendaraan dengan investasi jangka menengah–panjang. Pertimbangkan seluruh biaya yang menyertainya selama masa pakai: energi, perawatan, pajak, depresiasi, hingga risiko penggantian komponen besar. EV seperti Hyundai IONIQ 5 bukan sekadar “tren”, melainkan strategi efisiensi biaya dengan pola penggunaannya jangka panjang.
Penghematan operasional EV dapat menjadi alasan ekonomi yang sulit diabaikan jika dibandingkan dengan ICE. Kekuatiran soal pengisisan daya mobil lisrik kini tidak menjadi masalah lagi karena PLN telah mengembangkan infrastruktur SPKLU di setiap kantor PLN dan di setiap Rest Area. Ditambah lagi dengan tempat pengisisan daya EV yang dikelola swasta. Selain itu, teknologi yang dicangkokkan pada mobil listrik biasanya jauh lebih lengkap dibandingkan mobil konvensional. Hal ini membuat EV bukan hanya nyaman, tapi terasa hemat secara ekonomi.
