BATERAI EV DAN KETAKUTAN PUBLIK
Hendro Sutono - Pengamat dan Pengguna EV
Jum'at, 27 Februari 2026 15:01 WIB

Ketika sebuah kendaraan listrik mengalami kecelakaan lalu terbakar, berita itu hampir pasti menjadi headline. Judulnya besar, fotonya dramatis, dan kata “listrik” selalu ditempatkan di depan. Dalam hitungan jam, satu peristiwa bisa membentuk kesan luas bahwa kendaraan listrik adalah teknologi berbahaya. Padahal, di saat yang sama, kecelakaan kendaraan bermesin pembakaran internal terjadi setiap hari, jumlahnya jauh lebih banyak, sebagian juga berakhir dengan kebakaran, namun jarang lagi menjadi berita utama.
Ketakutan publik terhadap baterai kendaraan listrik sebenarnya wajar. Baterai berukuran besar, menyimpan energi tinggi, dan bekerja dengan prinsip yang tidak kasat mata. Berbeda dengan bensin atau solar yang sudah lama dikenal, listrik masih terasa asing bagi sebagian orang. Namun ketakutan ini sering diperbesar oleh paparan media yang tidak seimbang. Kendaraan listrik masih dianggap teknologi baru dan sedang tren, sehingga setiap insiden memiliki nilai berita tinggi. Sementara kecelakaan kendaraan konvensional sudah dianggap peristiwa rutin, meski risikonya tidak kecil.
Jika ditarik ke fakta teknis, baterai kendaraan listrik tidak bekerja seperti yang sering dibayangkan. Ia tidak meledak begitu saja saat terjadi benturan. Risiko utama yang dikenal adalah thermal runaway, yaitu kondisi ketika suhu sel baterai meningkat tak terkendali akibat kerusakan fisik atau panas ekstrem. Kondisi ini tidak terjadi secara instan dan membutuhkan skenario tertentu, seperti penetrasi langsung ke sel baterai atau kegagalan berlapis pada sistem pengaman.
Produsen kendaraan listrik sejak awal sudah mengasumsikan satu hal penting: kecelakaan pasti akan terjadi. Karena itu, baterai tidak ditempatkan begitu saja di bawah kendaraan. Ia dilindungi struktur pelindung yang kaku, dirancang untuk menahan benturan dari berbagai arah. Sistem kelistrikan kendaraan listrik juga dilengkapi pemutus arus otomatis yang akan memutus aliran listrik dalam hitungan sangat singkat ketika sensor mendeteksi tabrakan.
Selain itu, setiap baterai kendaraan listrik diawasi oleh Battery Management System atau BMS. Sistem ini terus memantau suhu, arus, dan tegangan sel. Jika terjadi penyimpangan dari batas aman, BMS akan membatasi kinerja atau mematikan sistem. Artinya, baterai kendaraan listrik bukan sekadar penyimpan energi, tetapi sistem aktif yang terus mengawasi dirinya sendiri.
Lalu mengapa kebakaran kendaraan listrik, jika terjadi, terlihat lebih menakutkan dan sering dibicarakan? Salah satu alasannya adalah durasi. Kebakaran baterai cenderung berlangsung lebih lama dan membutuhkan prosedur penanganan khusus. Secara visual, ini tampak tidak biasa dan dramatis. Media cenderung mengangkat hal-hal yang tidak biasa, terlebih di era digital yang sangat bergantung pada tren dan klik.
Di titik inilah peran media menjadi krusial dalam membentuk persepsi risiko. Dalam kajian komunikasi dikenal konsep agenda setting, yaitu mekanisme di mana media menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik. Media mungkin tidak selalu memberi tahu apa yang harus dipikirkan, tetapi sangat efektif menentukan apa yang perlu dipikirkan. Karena kendaraan listrik masih baru dan sedang ramai dibicarakan, setiap insiden mudah menjadi agenda utama.
Sebaliknya, kecelakaan kendaraan bermesin pembakaran internal, meski jumlahnya jauh lebih banyak, jarang lagi mendapat sorotan. Ia tidak lagi menawarkan unsur kebaruan atau daya tarik klik. Akibatnya, publik menilai risiko bukan dari perbandingan yang adil, melainkan dari intensitas pemberitaan yang diterima.
Hal ini tidak berarti kendaraan listrik sepenuhnya tanpa risiko. Tidak ada kendaraan yang benar-benar aman. Namun risiko pada kendaraan listrik bersifat terukur dan direkayasa. Insinyur merancang sistem dengan asumsi terburuk agar dampak kecelakaan dapat dikendalikan. Ini berbeda dengan persepsi bahwa keselamatan hanya bergantung pada keberuntungan.
Pada akhirnya, persoalan keselamatan kendaraan listrik tidak bisa dilepaskan dari kedewasaan publik dalam menyaring informasi. Di tengah banjir berita dan judul sensasional, kemampuan untuk menilai risiko secara rasional menjadi kunci. Bukan seberapa sering suatu kejadian muncul di layar, tetapi seberapa baik kita memahami konteks, teknologi, dan perbandingan risikonya secara adil.
