Oleh : Haris Muda Pratama

MOBIL LISTRIK versus MOBIL BBM

GAMBAR ARTIKEL 1.jpg

Konsep pertama mobil listrik diperkenalkan pada tahun 1830. Artinya komersialisasi mobil listrik telah diperkenalkan pada zaman abad 19. Namun dibandingkan dengan mesin kendaraan konvensional (Internal combustion), kendaraan listrik memperlihatkan kekurangan dalam jarak tempuh, baterai yang sangat berat dan sulit untuk diisi kembali, sehingga mobil listrik sangat tidak berhasil untuk pertama kalinya diperkenalkan.

Dewasa ini, kita telah mengetahui dan menyadari krisis global energy yang terus akan kita hadapi dan dari hari ke hari semakin besar di sisi lain, kita juga menghadapi krisis lingkungan akibat pencemaran lingkungan dan pemanasan global. Krisis global energi sebagai akibat dari semakin banyaknya kebutuhan mesin baik mesin untuk transportasi maupun industri yang terus menerus menyedot BBM yang kita ketahui bersama bahwa BBM berasal dari fossil yang cadangannya semakin hari semakin menipis, meskipun sudah diantisipasi dengan campuran dari bahan yang dapat terbarukan. Pembakaran dari mesin industri dan mesin transportasi menghasilkan zat yang bersifat polutif dan juga menghasilkan panas yang mempengaruhi pemanasan global. Selain itu, proses pembakaran dalam mesin-mesin tersebut juga menghasilkan kebisingan yang tidak bisa dielakkan.

Menghadapi situasi yang cukup memprihatinkan ini, para ahli yang peduli pada pelestarian ligkungan dan kalangan industri otomotif telah menghadirkan solusi dengan menciptakan moda kendaraan yang ramah lingkungan, yaitu kendaraan listrik (EV).

Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa negara sudah mengambil kebijakan untuk menggantikan mobil dengan bahan bakar minyak (BBM) dengan mobil listrik (EV) dan Indonesia termasuk salah satu negara yang sudah mengambil kebijakan elektrifikasi kendaraan bermotor dengan berbagai regulasi dan kebijakan yang dilahirkan. Industri automotif dari berberbagai merk kendaraan sudah mulai merencanakan untuk memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Kenapa Harus Mobil Listrik

Konsumsi Bahan Bakar dan Stasiun Pengisian Listrik

Dewasa ini sebagian kota besar di Indonesia sudah mengaplikasikan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), yang dipelopori oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang saat ini pelan-pelan membangun SPKLU di banyak tempat, serta pihak swasta yang juga berkontribusi untuk membangun SPKLU untuk membantu mewujudkan rencana pemerintah membangun ekosistem mobil listrik. Kita bisa lihat simulasi perbandingan biaya untuk pemakaian mobil listrik dan mobil BBM.

Simulasi Biaya Konsumsi Energi Rata-rata

artikel 2.png

Dari simulasi tersebut membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan atas biaya konsumsi energi. Keuntungan menggunakan mobil listrik dari sisi biaya konsumsi energi sangat signifikakn dibandingkan mobil hybrid dan traditional. Perbandingan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan mobil listrik dan tradisional 60% - 80% mobil listrik lebih hemat

Biaya Listrik Yang Lebih Murah Dibandingkan BBM

artikel 2.1.png

Harga minyak dunia yang tidak menentu dibandingkan dengan harga listrik. Harga BBM yang terkadang naik, turun dan tiba-tiba melonjak tinggi dan turun lagi. Bagaimana pun, rata-rata harga listrik di Indonesia relatif stabil dalam dekade terakhir ini. Apalagi jika energi terbarukan sebagai sumber penghasil listrik sudah banyak beroperasi di Indonesia, maka harga listrik akan lebih murah lagi. Bagi para pemilik mobil listrik, banyak yang kemudian lebih terbuka wawasannya untuk memaksimalkan anugerah Tuhan Yang Mahe Esa berupa energi matahari untuk diubah menjadi energi listrik melalui perangkat PV/solar panel. Jika sudah sampai pada tahap mendapatkan energi listrik dari matahari, semakin besar efisiensi biaya listrik, meskipun harus diakui investasi di awal pada saat pemasangan PV/solar panel cukup mahal.

Biaya Perawatan Kendaraan

Teknologi yang diterapkan di mobil listrik sangat modern yang mana dapat dikatakan less maintenance (minim perawatan) dibandingkan dengan mobil konvensional. Institute for Automotive Research (IFA) Nürtingen-Geislingen University di selatan German terlah melakukan studi untuk pemakaian dan perawatan kendaraan selama 8 tahun. Dengan range yang relatif rendah yaitu 8K kilometer per tahun. Mobil konvensional yang menggunakan BBM kurang lebih membutuhkan biaya 68 juta untuk perawatan selama setahun, sedangkan untuk mobil listrik sekitar 43 juta untuk biaya perawatan per tahunnya.

Performa Saat Dikendarai

Mobil listrik sangat mengagumkan. Mesin mobil listrik memiliki Torsi instant (turning power), ketika internal combustion engine (mobil BBM) tidak bisa melakukan hal yang sama. Kita dapat melihat bahwa mobil listrik tidak ada jeda saat di gas (acceleration) dibandingkan mobil BBM.

artiketl 2.2..png

Emisi Gas Buang

Perhitungan didasarkan pada emisi untuk mobil listrik beserta emisi dari industri listrik dan emisi dari batubara, gas alam, dan bahan bakar lainnya untuk membuat listrik di seluruh negara. Setelah melihat statistik yang diberikan oleh Argonne National Laboratory dan US EPA di Januari 2020, sangat jelas bahwa emisi dari mobil listrik sangat rendah dibandingakan mobil dengan BBM. Dan lagi pembuatan komponen mobil listrik 7 kali lebih rendah emisi dibandingkan mobil listrik.

car artikel 2.2
car artikel 2.4
car artikel 2.3
car artiket 2.1

Dalam beberapa tahun terakhir banyak produsen mobil yang pelan-pelan mulai memproduksi mobil listrik, seperti produsen mobil Korea, Amerika, dan Eropa. Dengan demikian akan semakin banyak merk dari produsen ternama yang menyediakan mobil listrik dan menjadikan pilihan yang semakin beragam.